Senin, 30 April 2012


 SIKAP PROFESIONALISME

           Pada posisi apapun di Perusahaan, seorang karyawan perlu mengembangkan motivasi diri/motivasi kerja yang baik dan sikap profesionalisme.  Untuk itu pelatihan sehari ini akan membantu peserta mengembangkan mind set yang tepat agar dapat menyelaraskan kepentingan diri dan kepentingan Perusahaan serta meningkatkan keterlibatan di dalam kerja.

          Selain itu, kebanyakan fresh graduate yang baru mulai bekerja juga masih terbawa oleh kebiasaan dan sikap belajar yang ada sebelumnya -seperti lebih sering menunggu, ingin semua dikerjakan secara sempurna, dan seterusnya, sehingga kurang tepat bila diterapkan di tempat kerja.  Training ini juga akan memberikan pengantar untuk mengembangkan mindset professional yang dibutuhkan di dunia kerja.

Outline


Motivasi dan keterlibatan (engagement) kerja
  • Apa itu motivasi dan keterlibatan kerja?
  • Sumber-sumber motivasi kerja
  • Apa yang dapat mendorong keterlibatan kerja optimal?

Motivasi diri (self motivation)
  • Pengaruh faktor pekerjaan dan perusahaan bagi motivasi diri dalam bekerja
  • Antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik
  • Bagaimana cara menemukan dan mengembangkan motivasi intrinsik
  • Mengembangkan achievement motivation dalam kerja

Sikap Profesional
  • Mengenal 4 sikap kerja: trading, relasi sosial, personal development, spiritual
  • Menyeimbangkan persaingan dan kerja sama; kepentingan diri, tim dan organisasi
  • Sikap positif dalam relasi dengan tim kerja
  • Ciri profesionalisme
  • Mengembangkan sikap dan kebiasaan profesional

Basic tools for Profesional
  • Kematangan emosi
  • Percaya Diri dan Inisiatif
  • Reasonable dan Komunikasi Efektif
  • Followership (mengelola hubungan dengan Atasan) dan Team Work.

Workshop Leader :

G. Suardhika, MBA.
            Telah memiliki banyak pengalaman sebagai HR Consultant dan pernah menempati posisi senior management di sebuah perusahaan penerbangan Indonesia. Salah satu topik unggulan yang beliau bawakan di dunia training diantaranya leadership, Supervisory, Performance Management dan Coaching. Sepanjang pengalamannya di dunia training, Beliau membantu di beberapa perusahaan ternama seperti: AQUA,ORIX Finance Indonesia, OPEL/General Motors, Garuda Indonesia, Bechtel International, Indomobil Suzuki International, Bredero Price, Telkom, Thames PAM Jaya, Asia Pulp and Paper dan Telkomsel.  Suardhika berlatar belakang pendidikan Psikologi dari UI dan MBA dari IPMI (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia)


            “Profesionalisme”… salah satu kata yang sering banget kita dengar di lingkungan sekitar kita, terutama buat orang-orang yang sudah bekerja. Di dalam dunia kerja kita bisa menghormati pekerjaan kita sendiri kalau kita bisa menunjukkan sikap “profesionalisme” buat diri kita sendiri dan pekerjaan kita. Dengan begitu, lingkungan sekitar juga akan tahu bahwa kita adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
              Setiap perusahaan menginginkan karyawan atau orang-orang yang memiliki sikap profesionalisme yang tinggi. Karena dengan begitu perusahaan akan lebih merasa diuntungkan dengan memiliki orang-orang yang berkualitas dan profesionalisme terhadap pekerjaannya. Ada 2 hal yang menyangkut mengenai profesionalisme, yaitu :
Ciri-ciri orang profesionalisme antara lain :
  • Mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi di bidang yang sesuai dengan profesinya.
  • Mempunyai keterampilan yang lebih tinggi juga sesuai dengan bidang yang diminati.
  • Cepat tanggap (respon) terhadap maslah yang dihadapi oleh client.
  • Mampu bekerja sama.
  • Mampu bekerja dibawah disiplin etika.
  • Mampu mengambil keputusan didasarkan pada kode etik, jika dihadapkan pada situasi dimana pengambilan keputusan berakibat luas terhadap masyarakat.
             Dalam suatu perusahaan, seseorang harus memiliki kode etik yang bersifat profesionalisme yang harus dimiliki. Kode etik profesi adalah suatu media atau sarana untuk membantu para pelaksana dimana seseorang yang profesionalisme supaya tidak dapat merusak etika profesi.
             Kode etik seorang professional TI adalah memuat norma-norma yang berlaku dimana hal ini terkait dengan hubungan antara professional TI dengan klien. Sebagai contoh bentuk hubungan antara professional TI dengan klien adalah tentang pembuatan program aplikasi. Selain itu juga, seorang professional TI tidak dapat membuat program semaunya. Profesional TI harus bisa memperhatikan program tersebut nantinya akan digunakan oleh user dan memperhatikan pula segi keamanan yang ada serta hal-hal yang dianggap dapat merugikan user.

Kamis, 26 April 2012



BEBERAPA PENGERTIAN DALAM ETIKA
PROFESI


   Pengertian Etika dan Etika Profesi Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak  kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan - tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

 Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan "self control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok social itu sendiri.

 Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat "built-in mechanism" berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian

 Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya

1.2 Etika dan Estetika

 Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.

Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundangundangan, norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari
sedangkan norma moral berasal dari etika.
1.3 Etika dan Etiket

Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:

 Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun
etiket.

 Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus
dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampur adukkan

Perbedaan antara etika dengan etiket

1.     Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia.

 Etiket menunjukkancara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalamsebuah kalangan tertentu.Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika member norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

2.     Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.

Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam
harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa

3.     Etiket bersifat relatif.

Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah
kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan
mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.

4.     Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika
memandang manusia dari segi dalam.

Penipu misalnya tutur katanyalembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiketnamun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.


1.4 Etika dan Ajaran Moral

 Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.

 Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan
normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).



Etika dan Agama

Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat
untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi
dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan
ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar
indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:

1. Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas
mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin
mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu
menggali rasionalitas agama.

2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan
interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.

3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka
agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan
gen yang sama.

4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri
pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya
sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang
mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama
dan pandangan dunia.